DENPASAR – Pernapasan yang sesak seringkali dianggap sebagai tanda penuaan biasa atau kelelahan. Namun, waspadalah jika sesak tersebut berlangsung kronis dan semakin memberat. Bisa jadi, itu adalah gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
dr. I Gusti Ayu Nita Kusuma Dewi, Sp.P, Dokter Spesialis Paru di RS Bhayangkara Denpasar, menjelaskan bahwa PPOK adalah penyakit peradangan paru kronis yang menyebabkan terhambatnya aliran udara di paru-paru. Berdasarkan data Kemenkes RI, PPOK merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia yang sebenarnya dapat dicegah dan diobati.
Informasi layanan selengkapnya dapat diakses melalui Website Resmi RS Bhayangkara Denpasar.
Menurut dr. Nita Kusuma Dewi, PPOK biasanya disebabkan oleh paparan jangka panjang terhadap gas iritan atau benda partikulat, paling sering dari asap rokok. PPOK mencakup dua kondisi utama:
Bronkitis Kronis: Peradangan pada saluran bronkus yang menyebabkan batuk berdahak menahun.
Emfisema: Kerusakan pada kantong udara (alveoli) di paru-paru yang membuat penderita sulit mendapatkan oksigen.
Gejala PPOK seringkali tidak muncul sampai terjadi kerusakan paru yang signifikan. dr. Nita menyebutkan beberapa gejala khas, antara lain:
Sesak napas yang menetap dan semakin parah saat beraktivitas fisik.
Batuk kronis yang disertai dahak (sering disebut batuk perokok).
Suara mengi (wheezing) saat bernapas.
Rasa berat atau sesak di dada.
Lemas dan penurunan berat badan secara drastis pada tahap lanjut.
"Faktor risiko terbesar adalah asap rokok, baik pada perokok aktif maupun pasif," tegas dr. Nita Kusuma Dewi, Sp.P. Namun, beliau juga menambahkan beberapa faktor lain berdasarkan referensi medis terkini:
Polusi Udara: Paparan asap kendaraan, debu jalanan, atau asap pabrik.
Paparan Lingkungan Kerja: Debu kimia, uap, atau asap di tempat kerja.
Faktor Genetik: Meski jarang, kekurangan protein Alpha-1 Antitrypsin dapat memicu PPOK.
Meskipun kerusakan paru pada PPOK bersifat permanen, pengobatan yang tepat dapat membantu mengontrol gejala dan meningkatkan kualitas hidup. dr. Nita menyarankan:
Berhenti Merokok Segera: Ini adalah langkah paling krusial untuk mencegah perburukan fungsi paru.
Vaksinasi: Mendapatkan vaksin influenza dan pneumonia secara rutin untuk mencegah infeksi paru berat.
Rehabilitasi Paru: Program latihan fisik dan pernapasan khusus untuk penderita gangguan paru.
Terapi Obat: Penggunaan inhaler (bronkodilator) atau kortikosteroid sesuai resep dokter spesialis paru.
"PPOK bukanlah akhir dari segalanya. Dengan deteksi dini melalui tes fungsi paru (Spirometri) di RS Bhayangkara Denpasar, penderita tetap bisa hidup produktif dengan penanganan yang tepat," pungkas dr. I Gusti Ayu Nita Kusuma Dewi, Sp.P.
Segera periksakan kesehatan paru Anda sebelum terlambat. dr. I Gusti Ayu Nita Kusuma Dewi, Sp.P siap melayani konsultasi di Poliklinik Paru RS Bhayangkara Denpasar.
Informasi lebih lanjut WhatsApp: ? Klik untuk Chat WhatsApp: 0811-3833-238
Alamat: Jl. Trijata No.32, Dangin Puri Kangin, Denpasar Utara, Bali. RS Bhayangkara Denpasar - Kami BISA Untuk Senyum Sehat Anda